Gadis Sendu

14 komentar

Hei, boleh aku duduk disamping mu?”

Aku mengangguk, sedikit mendongak untuk melihat sekilas seperti apa wajah orang yang mau duduk disampingku. Lelaki ini tinggi, berkulit sawo matang sama seperti ku, bola matanya hitam berkilau, rambutnya sedikit gondrong dengan poni yang menutupi dahinya.

Kau bisa bermain denganku?”

Ya ya ya memang ini adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di sekolah menengah atas, pantas saja jika kebanyakan teman-teman sekelasku bergerombol dengan teman-teman satu smp nya yang beruntung diterima di sekolah dan kelas yang sama. Yang lainya dengan segera sudah memiliki pasangan karena cukup aktif untuk berkenalan, memberikan kesan pertama yang manis seolah-olah merupakan kandidat teman dambaan.

Aku sendiri ?? haahaa, tujuanku masuk kesekolah ini bukan untuk mencari teman, bukan juga untuk mencari ilmu, lalu ? Ikuti saja kisahku.

Lelaki disampingku masih menanti jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya tadi. Sebelum kakinya beranjak pergi aku menahannya dengan memberikan respon. Yah, aku juga butuh teman, satu cukuplah karena tidak mungkin bergerilya di sekolah yang kata orang tempat ini dipenuhi dengan sifat penunggu nya yang labil.

Main apa?”

Kau baru bertemu denganku bukan? Kita tak pernah bersua sebelumnya ya?”

Aku paham arah pembicaraanmu”

Bagus, sudah kuduga”

Kau yang mulai”

Aku? Baiklah... kau adalah tipe siswi yang tidak akan banyak gaya kedepannya layaknya murid-murid SMA pada umumnya yang melakukan hal menakjubkan dengan alasan pencarian jati diri”

Aku tersenyum bukan karena analisanya namun gayanya meletakkan dua jari, seperti tanda petik di depan mukaku saat ia bilang menakjubkan.

Lalu?”

Kau memiliki tingkat peka yang melebihi rata-rata, itulah kenapa aku ingin duduk disampingmu, karena bisa dipastikan hal-hal menarik akan kita temukan bersama”

Aku mengerutkan dahi, aku paham kenapa dia menilaiku seperti itu, hanya karena aku bisa menebak bahwa permainan yang dia ajak adalah analisa terhadap masing-masing dari kami, padahal awalnya aku mengira dia akan bermain sulap, kata-katanya persis dengan pesulap-pesulap dilayar televisi. Tapi kubiarkan saja, toh kesan pertama dimata teman pertamaku ini sepertinya menarik.

Kelihatannya kau cerdas, namun sesuatu yang membuatku penasaran adalah wajahmu tampak terlalu polos untuk anak yang menginjak remaja, seperti yahh mungkin seharusnya kau belum lulus smp, hhaa”

Dia merasa itu sebuah lelucon atau pujian, namun yang tidak dia tahu adalah hatiku berdegub kencang. Bagaimana bisa dihari pertama sekolah  bertemu dengan seseorang yang begitu memperhatikan setiap detail dari objek observasinya, bahkan saat tatapan pertama. Entah apa lagi yang bisa dia bongkar jika kami bersama untuk waktu yang lama.

Giliranku”

Baiklah, utarakan analisamu Desuu”

Kau adalah orang yang tak ingin menjalani masa SMA dengan biasa saja, termasuk hal menakjubkan seperti yang kau maksudkan, aku tak tahu kau telah terpengaruh oleh film luar negeri atau semacamnya yang jelas bukan sinetron negeri tercinta dengan kisah anak sekolah dimana meski setting yang digunakan adalah sekolah namun jarang terlihat mereka berada di dalam kelas untuk berdiskusi tentang pelajaran”

Bahasamu sopan juga, lanjutkan”

Kau menyukai Jepang, terlihat dengan gaya rambutmu dan juga penggunaan kata sapaan untukku”

Matanya berbinar, melihatku tanpa berkedip, “Kau luar biasa Desuu, kita harus berteman”

Aku tersenyum, menarik perhatian lawan jenis adalah keahlianku, bukankah mereka selalu mendewakan penampilan kala memutuskan untuk mendekat, dan aku memiliki itu juga permainan singkat kami. Berbeda dengan kaum ku yang heemmm... sedikit mencibir kala ada satu makhluk dari kami yang mereka anggap lebih baik dari segi fisik itu bisa disebut juga sebagai ancaman, fiuhhh, menggelikan.

Namun bukan sesuatu yang kuharapkan di awal, berteman dengan orang beranalisa jitu bisa menjadi bomerang untukku kedepannya. Banyak hal yang kutakutkan, bersekolah disini juga merupakan pelarian dari segala yang kuanggap tak seharusnya terjadi lagi.

Bel berdentang tiga kali tanda untuk memaksa murid-murid meninggalkan kebebasan mereka dan berkumpul di dalam ruangan kelas untuk mendapatkan tujuan keberangkatan mereka ke sekolah. Aku belum memutuskan apakah akan berteman atau tidak dengan Kira. Sebutanku untuknya, karena bagiku dia terlihat seperti memiliki dewa kematian dalam film Jepang yang berjudul “Death Note”.

Akankah aku menjadi orang pertama yang akan terenggut nyawa olehnya?
Ciani Limaran
Haloo... selamat bertualang bersama memo-memo yang tersaji dari sudut pandang seorang muslimah.

Related Posts

14 komentar

  1. Keknya sih bukan horor, tapi sarkastik, keren...

    BalasHapus
  2. keren..aku suka..aku suka :)

    BalasHapus
  3. Reading!
    Penasaran part lanjutannya. Dewa Kematian!

    BalasHapus
  4. Kira. Dewa kematian. Nadilla jadi teringat suatu novel yang pernah Nadilla baca dulu...

    BalasHapus
  5. semoga tebakan mbak april benar. keren banget, semog bukan horor kelanjutannya

    BalasHapus
  6. Gelarrr tendaaa.... membaca dengan seksama

    BalasHapus
  7. Indo nuansa korea kah,.. hhe.. lanjuttt...

    BalasHapus
  8. wah mbak Ciani suka Death Note juga?^_^

    BalasHapus

Posting Komentar